By | Juni 25, 2019

Sudah bukan kasus gres bergotong-royong apabila berbicara wacana informasi suap hingga pengaturan skor di kompetisi persepakbolaan kita bung. Praktik kotor menyerupai terus mengumpat dibalik tabir-tabir bendera fair play yang kerap berkibar. Pasalnya praktik kotor ini tidak hanya menyerang pemain, namun dapat juga instruktur hingga jajaran official tim.

Mungkin alasannya ialah alasan itu lah, mantan striker Indonesia di kurun 2000-an yang mempunyai julukan Si Piton, Budi Sudarsono. Menghindari melatih beberapa klub yang berkecimpung di kompetisi biar menjauhkan dari praktik kotor. Budi justru melatih pemain usia dini semacam SSB. Lantaran klub profesional yang berkiprah di kompetisi resmi di Indonesia kerap melaksanakan praktek kotor.

Beberapa tahun terakhir sepak bola kita sangat kotor. Saya tahu kondisi ini dari diskusi dengan sesama mantan pemain atau ketika jadi ajun instruktur di Kalteng Putra. Makanya, aku lebih baik menjauh. Saya melatih bawah umur kecil saja,” katanya dikutip dari Bola.com

Mantan striker Timnas Indonesia yang mempunyai lisensi B AFC pernah menjabat jadi ajun Kas Hartadi di Kalteng Putra yang berkiprah di Liga 2. Kini mantan pemain Persik dan Persija pun menyayangkan apa yang terjadi sekarang. Bahkan dia membandingkan persepakbolaan kurun dirinya dengan yang sekarang.

Saat kurun klub boleh pakai dana APBD, sepak bola kita bersih. Kami bermain sportif, alasannya ialah kami mengejar iming-iming bonus dari pengurus, bukan dari bandar. Klub-klub tak butuh bandar, alasannya ialah semua klub punya dana melimpah,” ungkapnya.

“Saat itu klub jorjoran menawarkan bonus kepada pemain. Tiap pemain tampil habis-habisan mengejar bonus itu. Kalau kami kalah benar-benar kecewa, alasannya ialah bonus hilang. Jika menang, kami bahagia sekali,” imbuhnya.